Jumat, 06 Desember 2013

Analisis Drama dengan Pendekatan Ekspresif

A.    Sinopsis Drama Anak “Bunda, Maafkan Aku”

Dalam naskah drama berjudul “Bunda, Maafkan Aku” berisi tentang seorang anak bernama Karin yang durhaka terhadap ibunya. Kedurhakaan itu muncul karena Karin adalah seorang anak yang sangat pintar dan berprestasi tinggi. Ia pun selalu mendapat juara. Kisahnya kedurhakaannya berawal dari ia mendapat juara, teman-temannya memberi selamat kepadanya tetapi ia bersikap sombong dan merasa hanya dia yang paling pintar. Ketika ibunya memberi perhatian kepada Karin atas prestasi yang didapatkannya, Karin menganggap ibunya yang bersikap sok perhatian. Bahkan Karin membentak-bentak ibunya.
Dua puluh tahun kemudian Karin pun sudah mencapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Suatu ketika setelah ia memeriksa pasiennya, tiba-tiba dokter Karin jatuh pingsan. Teman-temannya sesama dokter pun panik, dan kemudian ia diperiksa kesehatannya. Ternyata lambung Karin bermasalah hingga membuatnya tidak kuat dan akhirnya jatuh pingsan. Mendengar kabar Karin sakit dan dirawat di rumah sakit,  ibu Karin sangat khawatir dan dengan setia menunggui anaknya hingga ia bangun. Akhirnya Karin terbangun dari pingsannya, ia mendapati ibunya ada di sampingnya. Dokter Reza yang memeriksa Karin menjelaskan bahwa selama ini yang menungguinya adalah ibunya. Mendengar hal tersebut Karin merasa bersalah dan ia pun meminta maaf pada ibunya selama ini sudah menyakiti hati ibunya.

B.     Analisis Drama Anak “Bunda, Maafkan Aku” dengan Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra. Pengarang menciptakannya berdasarkan subjektifitasnya saja, bahkan ada yang beranggapan arbitrer. Padahal, ekspresif yang dimaksud berkenaan dengan daya kontemplasi pengarang dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan sebuah karya yang baik dan sarat makna.
Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, presepsi-presepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra.
Dalam menganalisis drama “Bunda, Maafkan Aku” karya Isnaini DK, menggunakan pendekatan ekspresif yang mengulas karya sastra sebagai ekspresi/curahan, ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan, dan kritik yang cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan pelihatan pribadi penyair atau keadaan pikiran. Kritik ini sering dicari dalam karya sastra yang berkaitan dengan fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.
Karena pendekatan ini merupakan pendekatan yang mangaitkan sebuah karya sastra dengan pengarangnya. Maka, langkah pertama dalam menerapkan pendekatan ekspresif, seorang kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
 Langkah kedua, melakukan penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan, dan sebagainya. Seorang kritikus bebas melakukan penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.
 Langkah ketiga, mengaitkan hasil penafsiran dengan berdasarkan tinjauan psikologis/kejiwaan pengarang, Asumsi dasar penelitian psikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk secara sadar (conscius).



C.    Biografi Pengarang

Isnaeni DK adalah seorang pengajar dan pendidik. Ia menikmati perannya sebagai pengajar drama. Baginya, drama adalah bagian dari hidupnya. Isnaeni DK senang bersama anak-anak, mengajarkan tentang ekspresi, cara mengucapkan (vokal) dialog, akting, juga pengambilan hikmah dari sebuah naskah drama, dan ia paling suka menulis naskah drama ataupun cerpen untuk anak-anak. Sehingga ia lebih suka meminta anak-anak (siswanya) praktik drama daripada mengajari anak-anak (siswanya) secara teori.
Menurut ibu satu anak ini, anak-anak tidak perlu diceramahi panjang lebar dalam kelas drama karena dengan melakukan akting, mereka belajar sosio drama. Dan menurut Isnaeni DK amanat-amanat yang terkandung dalam alur cerita akan mudah  diserap oleh anak-anak sesuai dengan cara mereka masing-masing.

D.    Latar Belakang Psikologi Pengarang

Pengarang drama anak yang berjudul Bunda, Maafkan Aku merupakan seorang pendidik. Dalam kesehariannya, ia tentu banyak menjumpai siswa-siswi dengan berbagai karakter. Melalui pengamatan secara langsung ketika mengajar, ia menuliskan berbagai kisah yang ia temui di antara anak didiknya. Pengalaman menuntunnya untuk membuat sebuah drama yang berlatar belakang kehidupan sehari-hari.
Di dalam drama tersebut dikisahkan seorang anak yang tinggi hati dan tidak menghormati orang tua. Bisa jadi penulis terinspirasi oleh anak didiknya. Di sekolah, pasti banyak dijumpai anak yang sombong, tinggi hati, dan tidak sopan dengan orang tua. Penulis menuliskan cerita berbentuk drama anak sebagai bahan bacaan untuk anak didiknya. Dengan tema yang mengambil tak jauh dari kehidupan sehari-hari bisa menjadi bahan ajar yang baik untuk anak didiknya. Diharapkan anak-anak akan lebih menghormati orang tua dan tidak tinggi hati terhadap apapun yang dimiliki.

E.     Latar Belakang Sosial dan Budaya

Sebagai seorang pendidik, penulis pasti memiliki anak didik dengan berbagai watak dan perilaku yang berbeda-beda. Penulis menggambarkan watak Karin sebagai sosok yang tinggi hati ketika ia berhasil menjadi juara kelas. Memang, tak sedikit anak yang berubah menjadi sombong ketika berhasil memperoleh juara. Penulis tentu sering menjumpai siswa seperti yang dikisahkan dalam drama.
Ketika masih bersekolah, kita tentu senang jika mendapat juara kelas apalagi jika mendapat pujian dari guru. Bahkan, jika ada siswa yang mengalahkan kita di bidang akademik, rasa kecewa pasti ada. Berbagai reaksi dari para siswa yang mendapatkan juara tentu beragam. Ada yang senang karena akan mendapat hadiah tambahan dari orang tua, ada yang bersikap biasa-biasa saja, dan ada yang bersikap sombong karena merasa dirinya paling pintar. Penulis mengisahkan sosok Karin sebagai anak yang sombong. Ketika ia mendapat juara dan dipuji teman-temannya, ia merasa besar kepala. Ketika teman-temannya mengingatkannya untuk berterima kasih kepada ibunya, ia acuh saja. Ia merasa bahwa kesuksesannya adalah hasil usahanya sendiri,  jadi ia tidak perlu berterima kasih kepada ibunya.
Penggambaran tokoh seperti Karin tentu sering kita jumpai di kalangan anak-anak. Anak yang membentak-bentak orang tua dan orang tua yang hanya bisa pasrah menyaksikan tingkah laku putra-putrinya. Selain dari sekolah, penulis pun dapat mengamati lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Mungkin, banyak anak-anak yang memiliki sifat seperti Karin yang bisa diamati. Penulis juga memiliki seorang anak. Penulis pun bisa mengamati tingkah laku anaknya.
Budaya yang ditonjolkan penulis dalam drama tersebut yaitu anak pintar selalu merasa senang ketika dipuji yang kebanyakan dari mereka langsung merasa dirinya paling pintar. Meskipun tidak semua anak seperti itu, tetapi tidak mudah meninggalkan watak seperti Karin bagi anak yang sering berprestasi. Lalu, ketika si anak itu sukses, kebanyakan dari mereka melupakan jasa orangtuanya dan selalu beranggapan bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Dan ketika tertimpa musibah barulah ia akan menyadari bahwa orang tualah yang amat berjasa dalam hidupnya. Dalam sebuah cerita, selalu diungkapkan penyesalan yang datang di akhir.

F.     Latar Belakang Pendidikan

Penulis tentu merupakan pemerhati anak.  Hal ini tak lepas dari perannya sebagai pendidik. Melalui naskah drama dan biografinya, kita bisa menyimpulkan bahwa penulis sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan drama. Drama tersebut seolah-olah ditemukan dari salah satu anak didiknya. Penulis merupakan guru yang aktif. Ia lebih suka praktik langsung daripada sekadar mengajar teori. Sehari-hari, dunia pendidikan sudah menjadi bagian dari hidupnya.

G.    Latar Belakang Agama

Dalam menciptakan sebuah naskah drama, penulis tentu ingin menyampaikan pesan secara tersirat dalam drama yang ditulisnya. Misalnya pada drama Bunda, Maafkan aku, penulis ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa kita tidak boleh sombong dan tidak boleh membentak-bentak orang tua. Secara tidak langsung penulis ingin mengajarkan nilai-nilai moral sekaligus nilai agama pada anak-anak. Di dalam Islam, agama tidak memperbolehkan bersikap kasar kepada orang tua. Anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapat laknat dari Allah. Bisa jadi, penulis merupakan sosok yang religius karena menuangkan unsur keagamaan dalam naskah drama yang ditulisnya.






Lampiran Naskah Drama Anak "Bundaku, Maafkan Aku."

“Bunda, Maafkan Aku”

Karin sangat pintar. Ia berprestasi tinggi dan selalu menjadi juara. Tetapi ia lupa pada ibunya saat sudah besar, ia menjadi orang yang berhasil. Ia sudah menjadi seorang dokter sesuai dengan cita-citanya.
Suatu ketika, ia terkena sakit parah, ternyata yang datang pertama kali adalah ibunya...yang dulu pernah ia sia-siakan. Akankah ia sadar akan kesalahannya itu? Mari kita saksikan pada drama “BUNDA, MAAFKAN AKU”

Adegan 1
Karin selalu menjadi juara kelas di sekolahnya.
Mila     : “Selamat ya, Rin. Kamu selalu menang!”
Nana    : “Kamu hebat deh, Rin! Aku ngiri sama kamu...”
Karin    : “Iya dong. Aku emang hebat. Kalian berjuang dong biar bisa kayak aku!”
Lila      : “Aah...gimana caranya bisa kayak kamu. Otakmu udah encer gitu!”
Tiba-tiba datanglah Rara, Tina dan Kaila di tengah-tengah mereka.
Rara    : “Eh, Karin. Jangan lupa berterimakasih kepada ibumu. Jangan seneng-seneng aja!”
Kaila    : “Iya, Rin. Jangan sampai kamu melupakan ibumu.”
Karin    : “Untuk apa berterimakasih sama ibu? Aku berhasil kan karena usahaku sendiri...”
Tina     : “Itu ibumu, Rin. Masa kamu nggak berterimakasih sedikitpun? Apa kamu nggak takut kena laknat Allah?”
Karin    : “Udah deh, nggak usah khutbah di sini. Khutbah itu di masjid.  Dan itu juga dilakukan oleh laki-laki!”
Karin meninggalkan mereka semua.
Adegan 2
Ibu       : “Ibu bangga padamu, Nak. Kamu selalu berprestasi.”
Karin    : “Huh! Nggak usah sok perhatian gitu deh, Bu.
Ibu       : “Nak. Kamu ini anak ibu. Ibu pasti selalu bangga dan bahagia dengan semua prestasimu. Kamu adalah kebanggaan ibu.”
Karin berlalu sambil menggebrak meja. Ia benci kepada ibunya.
Adegan 3
Dua puluh tahun kemudian, Karin sudah menjadi dokter anak.  Ia baru selesai memeriksa balita bernama Talita.
Mama : “Terimakasih ya, dokter. Kami pamit dulu.”
Talita   : “Aku bisa sembuh nggak, dokter Kayin?”
Karin    : “Pasti Talita akan sembuh kok. Ibu yang baik ya menjaganya. Jangan lupa obatnya diminum.”
Mama : “Baik, dok.”
Adegan 4
Para dokter sekerja Karin begitu panik. Dokter Shinta, Nia, dan Sheryl mengitari Karin yang baru saja jatuh pingsan.
Shinta  : “Ada apa dengan Karin nih?”
Nia       : “Kita panggil dokter Reza!”
Sheryl  : “Ya. Aku akan memanggilnya sekarang. Kalian bawa Karin masuk dulu.”
S & N   : “Ayo, cepat!”
Adegan 5
Karin tertidur lemas.
Reza    : “Lambungnya bermasalah. Untuk sementara ia harus melakukan perawatan dulu di sini.”
Ibu Karin tiba-tiba datang.
Ibu       : “Apa yang terjadi  denganmu, Nak? Ibu sangat khawatir.”
Selama 24 jam ibu menemani Karin yang selama ini telah menyia-nyiakannya. Teman-temannya sangat kasihan pada ibunya.
Adegan 6
Karin terbangun dan mendapati ibunya berada di sampingnya. Ia menangis tergugu tak tahu harus berbuat apa. Dokter Reza menjelaskan bahwa selama ini yang menungguinya adalah ibunya. Karin lalu meminta maaf.



1 komentar:

  1. Harveys – Harveys - Thaitanium
    Harveys.com, Inc. in the United States. The titanium trim as seen on tv company is not associated with nor is it titanium ore a liquor used ford edge titanium company. Harveys.com citizen titanium watch is a subsidiary of titanium razor

    BalasHapus