Asal Mula Desa Saripan
Pada saat zaman
penjajahan Belanda, di suatu tempat didatangi oleh beberapa ulama bernama Mbah
Pangeran Syarif, Mbah Moliki, Mbah Jenggala, dan Mbah Sumadirjan. Mereka datang
ke tempat tersebut bertujuan untuk menyebarkan agama Islam. Penduduk sekitar
menyambut mereka dengan baik. Penyebaran agama Islam di sanapun berjalan
lancar. Waktu berlalu, sampai akhirnya Mbah Pangeran Syarif, Mbah Moliki, Mbah
Jenggala, dan Mbah Sumadirjan meninggal dunia.
“Bagaimana kalau desa
kita dinamakan Desa Saripan?” usul salah seorang penduduk
“Setuju.” Jawab para
penduduk serempak
Karena Mbah Pangeran
Syarif adalah ulama besar dan dianggap sesepuh oleh penduduk, maka penduduk
sepakat memberi nama desa mereka Desa Saripan.
Tahun 1857-1881, Jepara
dipimpin oleh Adipati terakhir Citro Wirokusumo. Karena Desa Saripan dianggap
cocok sebagai lahan peternakan dan masih asri daerahnya, bupati tersebut
memerintahkan kepada bawahannya untuk menjadikan sebagian lahan Desa Saripan
yaitu RW I sebagai lahan peternakan sapi.waktu silih berganti, masa jabatan
Adipati Citro Wirokusumo pun berakhir dan digantikan oleh Bupati KRMAA
Sosroningrat yang menjabat selama periode 1881-1905. Lalu Adipati Citro Wiro
Kusumo meninggal dan dimakamkan di Nggedong Bapangan.
Di awa jabatan Bupati
KRMAA Sosroningrat, Desa Saripan RW I dibebaskan dari lahan peternakan sapi.
Sapi-sapi tersebut dijual dan lahannya dibuat rumah-rumah penduduk. Akan
tetapi, sebutan kandang sapi masih melekat sampai sekarang. Jadi, Desa Saripan
RW I mendapat julukan Desa Saripan Kansa (Kandang Sapi).
Dari hari ke hari Desa
Saripan mengalami kemajuan, jalan-jalan diperbaiki. Pihak yang berwenang
memberi nama jalan di Desa Saripan RW I, yaitu Jalan Pangeran Syarif karena
jalan di RW I merupakan jalan menuju pemakaman Mbah Pangeran Syarif. Sedangkan
untuk makam ulama lain seperti Mbah Moliki, Mbah Sumodirjan, dan Mbah Jenggala
dimakamkan di tempat-tempat yang berbeda namun masih dalam satu wilayah di Desa
Saripan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar