Selasa, 10 September 2013

Jenis Karangan



Karangan Argumentasi
Penyebab Pemanasan Global


Lapisan ozon yang terdapat di bagian atas dari atmosfer bumi kita ternyata makin menipis. Lapisan ozon ini terbentuk secara alami yang berfungsi untuk menapis sinar ultraviolet dari matahari. Sehingga kehidupan di bumi ini terhindar dari bencana. Sinar ultraviolet ini dapat merusak kehidupan biologis. Untung lah banyaknya sinar ini sudah dihalangi oleh lapisan ozon, sehingga 9-10% saja yang lolos ke bumi. Kini menurut pengamatan para pakar meteorologi, lapisan ozon itu kian menipis. Sebabnya tidak lain adalah akibat banyaknya gas kimia yang diproduksi oleh manusia di bumi. Gas itu bernama Chlorofluoro Carbon (CfC) dan halon.
Manusia sering menggunakan barang-barang seperti lemari es, AC, cat semprot, parfum aerosol, dan lain-lain. Padahal hal-hal tersebut dapat menyebabkan efek rumah kaca dan dapat berakibat pada penipisan atau lubang ozon. Tidak hanya itu, menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, konsumsi energi bahan bakar fosil sebanyak 70% dari total konsumsi energi. Jadi,Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi as rumah kaca.

Karangan Deskripsi
Biografi R.A. Kartini




R.A. Kartini adalah seorang pejuang perempuan yang lahir tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Beliau lahir dari pernikahan Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat dan M.A. Ngasirah. Ayahnya adalah seorang Bupati Jepara. Sedangkan ibunya tidak dari kalangan bangsawan.
R.A. Kartini adalah perempuan yang cerdas. Beliau disekolahkan di Europe Lagere School. Beliau selalu berusaha agar para perempuan dapat bebas mengeyam pendidikan layaknya laki-laki. Akan tetapi diusia 12 tahun, beliau dipingit karena akan dinikahkan dengan Bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Aryo Singgih Djojo Adiningrat yang sebelumnya sudah beristri 3. Beliau sempat mengirim surat kepada Mr. J.H. Abendanon yang berisi permohonan beasiswa untuk belajar di Belanda. Namun, tanpa sempat mewujudkan mimpinya, tanggal 12 November 1903 beliau menikah , saat itu berusia 24 tahun. Meskipun begitu, R.A.Kartini tetap bertekad untuk memperjuangkan hak perempuan.
Tanggal 13 September 1904, R.A.Kartini melahirkan anak yang diberi nama Soesalit. Akan tetapi selang beberapa hari yaitu tanggal 17 September 1904 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Bulu, Rembang.
Perjuangan R.A.Kartini tidak sia-sia karena keluarga Van Deventer mendirikan beberapa sekolah, yaitu di Yogyakarta, Cirebon, Malang, dan lain-lain. Sekolah-sekolah tersebut diberi nama Sekolah Kartini. Tidak hanya itu, J.H. Abendanon membuat buku berjudul Door Duiternis Tat Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut berisi perjuangan R.A.Kartini semasa hidupnya yang disusun melalui kumpulan surat-surat yang dikirim oleh beliau kepada teman-temannya di Eropa.
Untuk mengenang jasa-jasa beliau, di Jepara didirikan Museum Kartini yang berisi benda-benda bersejarah R.A. Kartini. Tidak hanya itu, setiap tanggal 21 April warga Indonesia memeringati sebagai hari Kartini.


Karangan Narasi
Tawuran Siswa SMA 6 dengan SMA 70

Senin, 24 September 2012 terjadi aksi tawuran antara siswa SMA 6 dengan siswa SMA 70. Tawuran terjadi di Bundaran Bulungan, Jakarta Selatan. Saat itu pukul 12.00, siswa-siswa SMA pulang sekolah karena ujian selesai. Lima siswa dari SMA 6 singgah ke penjual gulai tikungan untuk membeli. Akan tetapi, 20 siswa SMA 70 tiba-tiba datang dan mengeroyok tanpa alasan yang jelas. Satu diantara mereka membawa sabit. Karena tidak terima atas perlakuan dari siswa SMA 70, siswa SMA 6 pun melawan. Namun, karena jumlah yang terlalu banyak dari SMA 70, siswa SMA 6 pun kalah.
Aksi ini terjadi sekitar lebih kurang 15 menit dan berhenti karena dibubarkan oleh 2 guru dari SMA 6. Guru-guru yang melihat anak didiknya menjadi korban pengeroyokan segera membawa mereka ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Korban luka-luka terdiri dari 2 orang, yaitu luka-luka di bagian pelipis dan luka-luka di jari tangan. Alwi, siswa kelas X SMA 6 juga menjadi korban karena terkena bacokan salah seorang siswa dari SMA 70. Malangnya, sat perjalanan menuju Rumah Sakit Muhammadiyah, Alwi tewas.
Karena kejadian ini 2 orang guru SMA 6, seorang guru SMA 70, dan dua saksi lain dimintai keterangan di Kepolisian. Sabit yang menjadi barang bukti pun diamankan oleh pihak polisi. Dan dua sekolah tersebut sedang dalam pengawasan polisi sebagai antisipasi kalau terjadi tawuran susulan. ”Sebelumnya sempat terjadi tawuran seperi ini sebelumnya tanggal 26 Januari 2012” ujar Ajun Komisaris Besar Hermawan.
Karangan Eksposisi
Resep Masakan Sate Bandeng

Bahan  :
1)      2 ekor bandeng masing-masing beratnya 500 gr.
2)      150 ml santan dari ½ butir kelapa.

Bumbu            :
1)      6 butir kacang merah.
2)      3 siung bawang putih.
3)      2 sendok teh ketumbar.
4)      ½ sendok teh terasi bakar.
5)      ½ sendok teh garam.

Cara membuat :
1)      Ambil 1 ekor ikan, pukul-pukul, lalu patahkan ekornya.
2)      Lakukan hal yang sama dengan ikan yang satunya lagi.
3)      Keruk dan keluarkan isi ikan dengan sendok.
4)      Buang tulang tengahnya.
5)      Kukus ikan bandeng 10-15 menit.
6)      Hilangkan duri-duri halus pada ikan.
7)      Haluskan bumbu dan oleskan pada ikan.
8)      Masak ikan dengan cara dipanggang hingga benar-benar kering.
9)      Setelah kering, tiriskan ikan pada piring, hias sesuai keinginan.
10)  Sate bandeng siap disantap, 1porsi untuk 8 orang.



Karangan Persuasi


Kokohkan Bangsa, Sehatkan Politik Indonesia!
Jayalah Indonesia Kita Tercinta!
Merdeka!

Karangan Eksposisi
Resep Masakan Sate Bandeng



Indonesia merupakan negara maritim, sehingga rata-rata warga negara Indonesia menyukai makanan laut, misalnya ikan, rumput laut, cumi-cumi, udang, dan lain-lain. Makanan laut mempunyai manfaat yang banyak. Protein yang terkandung pada makanan laut pun banyak.
Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan yang kaya manfaat. Maka dari itu, banyak yang menyukai ikan ini. Akan tetapi, rata-rata orang sering memasak ikan ini dengan cara dipresto. Sehingga, banyak orang yang bosan dengan menu masakan ini.
Tetapi, apabila seseorang mau berkreatif untuk membuat menu masakan dari bahan ikan bandeng, pasti memuaskan. Karena selain banyak manfaat, ikan ini enak. Selain dipresto, kita dapat membuat sate dari ikan bandeng.
Bahan yang dibutuhkan mudah saja, misalnya 2 ekor bandeng masing-masing beratnya 500 gr, dan 150 ml santan dari ½ butir kelapa. Dan untuk bumbunya kita hanya membutuhkan 6 butir kacang merah.3 siung bawang putih, 2 sendok teh ketumbar, ½ sendok teh terasi bakar, ½ sendok teh garam. Cara membuatnya pun mudah untuk dijalankan, yaitu ambil 1 ekor ikan, pukul-pukul, lalu patahkan ekornya. Lakukan hal yang sama dengan ikan yang satunya lagi. Keruk dan keluarkan isi ikan dengan sendok. Lalu, buang tulang tengahnya. Kukus ikan bandeng 10-15 menit. Hilangkan duri-duri halus pada ikan. Haluskan bumbu dan oleskan pada ikan. Masak ikan dengan cara dipanggang hingga benar-benar kering. Setelah kering, tiriskan ikan pada piring, hias sesuai keinginan. Sate bandeng siap disantap, 1porsi untuk 8 orang.
Jadi, jangan bosan untuk makan ikan bandeng. Karena kita dapat mencoba resep ini jika bosan dengan bandeng presto. Sate bandeng rasanya lezat jika dimakan bersama-sama saat makan siang atau makan malam.


Karangan Persuasi
Kokohkan Bangsa, Sehatkan Politik Indonesia!
Jayalah Indonesia Kita Tercinta!
Merdeka!


Politik Indonesia sekarang suram. Hal ini terjadi karena banyak orang yang melanggar hukum dengan berpolitik dengan cara kotor. Lalu apa yang terjadi jika hal ini terus berlangsung? Kita sebagai warga negara Indonesia haruslah sadar akan  kelangsungan hidup negara tercinta ini. Pancasaila dan Bendera Merah Putih sebagai saksi kita dalam membangun bangsa yang sehat, adil, dan sejahtera.
Sehatkan politik untuk kokohkan bangsa. Brantas perilaku tak mendidik dalam berpolitik. Buat Indonesia bangga memiliki kita sebagai penghuninya. Jayalah Indonesia kita tercinta.

Minggu, 08 September 2013

ASAL MULA YUYU GOTHO DAN ULAR LEMPA



Awal Mula Dusun-Dusun Ing Bangsri

Asal mula, ada seorang kyai di daerah Desa Bangsri (Kyai Ageng Bangsri), Surogotho menyukai Rara Wiji (Putri Kyai Ageng Bangsri), padahal Surogotho masih saudara dengan Kyai Ageng. Secara tidak langsung, Surogotho adalah paman dari Rara Wiji. Surogotho ingin menikahi Rara Wiji, namun Rara Wiji menolak. Kyai Ageng sudah terus menerus memberitahu Surogotho agar tidak menikahi keponakannya sendiri. Namun semua sia-sia, Surogotho tetap kukuh untuk menikaho Rara Wiji.
Suatu hari, Surogotho datang ke rumah Rara Wiji berniat mengutarakan keinginan hatinya itu, Surogotho merayu Rara terus-menerus, tapi Rara menolak hingga akhirnya Rara lari. Surogotho berjanji akan tetap mengejar Rara Wiji sampai kemanapun. Sampai di suatu tempat, Rara minta tolong kepada salah seorang warga. Rara bersembuyi.
“Dimana Rara Wiji?”
“Saya tidak tahu.”
Seketika Surogotho membunuh orang itu. Ditusuknya orang itu hingga jeroan / wedelan dalam perutnya keluar semua. Lalu tempat itu dinamakan Desa Wedelan. Rara lari lagi ke suatu tempat dan bertemu dengan Ki Banjar. Ditolongnya Rara agar bersembunyi.
“Dimana Rara Wiji?” tanya Surogotho
“Saya tidak tahu.”
Seketika Surogotho membunuh Ki Banjar. Maka tempat itu dinamakan Desa Banjaran.
Rara berlari lagi dan bertemu dengan lelaki berjenggot. Ditolongnya Rara. Seperti dua orang sebelumnya, Ki Jenggot juga dibunuh oleh Surogotho. Dan tempat itu dinamakan Desa Jenggotan.
Lalu Rara berlari lagi ke utara. Dia bertemu dengan penjual kembang/ bunga. Ditolongnya Rara. Dan penjual bunga itu dibunuh oleh Surogotho. Tempat itu dinamakan Desa Kembang.
Ki Ageng sudah tak tahan lagi dengan Surogotho/ Gotho yang terus-terusan membunuh orang. Ki Ageng punya akal. Gotho yang lelah berlari pasti akan minum. Ternyata benar, Surogotho minum air yang sebelumnya sudah dicampur dengan racun oleh Ki Ageng. Surogotho merasa tubuhnya panas. Lalu dia menceburkan diri ke pantai. Tiba-tiba dia berubah menjadi Yuyu Gotho (semacam kepiting kecil). Namun, ulahnya tidak berhenti juga. Dia justru menjadikan warga korban-korbannya. Rara ingin menyelamatkan warga. Lalu Rara masuk ke dalam air dan berubah menjadi ular.
Sampai sekarang, warga percaya jika ada yang terkena racun dari Yuyu Gotho maka penawarnya adalah Ular Lempa. Sedangkan yang terkena racun dari Ular Lempa, maka penawarnya adalah Yuyu Gotho.

ASAL MULA NAMA DESA



Asal Mula Desa Saripan

Pada saat zaman penjajahan Belanda, di suatu tempat didatangi oleh beberapa ulama bernama Mbah Pangeran Syarif, Mbah Moliki, Mbah Jenggala, dan Mbah Sumadirjan. Mereka datang ke tempat tersebut bertujuan untuk menyebarkan agama Islam. Penduduk sekitar menyambut mereka dengan baik. Penyebaran agama Islam di sanapun berjalan lancar. Waktu berlalu, sampai akhirnya Mbah Pangeran Syarif, Mbah Moliki, Mbah Jenggala, dan Mbah Sumadirjan meninggal dunia.
“Bagaimana kalau desa kita dinamakan Desa Saripan?” usul salah seorang penduduk
“Setuju.” Jawab para penduduk serempak
Karena Mbah Pangeran Syarif adalah ulama besar dan dianggap sesepuh oleh penduduk, maka penduduk sepakat memberi nama desa mereka Desa Saripan.
Tahun 1857-1881, Jepara dipimpin oleh Adipati terakhir Citro Wirokusumo. Karena Desa Saripan dianggap cocok sebagai lahan peternakan dan masih asri daerahnya, bupati tersebut memerintahkan kepada bawahannya untuk menjadikan sebagian lahan Desa Saripan yaitu RW I sebagai lahan peternakan sapi.waktu silih berganti, masa jabatan Adipati Citro Wirokusumo pun berakhir dan digantikan oleh Bupati KRMAA Sosroningrat yang menjabat selama periode 1881-1905. Lalu Adipati Citro Wiro Kusumo meninggal dan dimakamkan di Nggedong Bapangan.
Di awa jabatan Bupati KRMAA Sosroningrat, Desa Saripan RW I dibebaskan dari lahan peternakan sapi. Sapi-sapi tersebut dijual dan lahannya dibuat rumah-rumah penduduk. Akan tetapi, sebutan kandang sapi masih melekat sampai sekarang. Jadi, Desa Saripan RW I mendapat julukan Desa Saripan Kansa (Kandang Sapi).
Dari hari ke hari Desa Saripan mengalami kemajuan, jalan-jalan diperbaiki. Pihak yang berwenang memberi nama jalan di Desa Saripan RW I, yaitu Jalan Pangeran Syarif karena jalan di RW I merupakan jalan menuju pemakaman Mbah Pangeran Syarif. Sedangkan untuk makam ulama lain seperti Mbah Moliki, Mbah Sumodirjan, dan Mbah Jenggala dimakamkan di tempat-tempat yang berbeda namun masih dalam satu wilayah di Desa Saripan.