A.
Sinopsis
Drama Anak “Bunda, Maafkan Aku”
Dalam naskah drama
berjudul “Bunda, Maafkan Aku” berisi tentang seorang anak bernama Karin yang
durhaka terhadap ibunya. Kedurhakaan itu muncul karena Karin adalah seorang
anak yang sangat pintar dan berprestasi tinggi. Ia pun selalu mendapat juara.
Kisahnya kedurhakaannya berawal dari ia mendapat juara, teman-temannya memberi
selamat kepadanya tetapi ia bersikap sombong dan merasa hanya dia yang paling
pintar. Ketika ibunya memberi perhatian kepada Karin atas prestasi yang
didapatkannya, Karin menganggap ibunya yang bersikap sok perhatian. Bahkan
Karin membentak-bentak ibunya.
Dua
puluh tahun kemudian Karin pun sudah mencapai cita-citanya menjadi seorang
dokter. Suatu ketika setelah ia memeriksa pasiennya, tiba-tiba dokter Karin
jatuh pingsan. Teman-temannya sesama dokter pun panik, dan kemudian ia
diperiksa kesehatannya. Ternyata lambung Karin bermasalah hingga membuatnya
tidak kuat dan akhirnya jatuh pingsan. Mendengar kabar Karin sakit dan dirawat
di rumah sakit, ibu Karin sangat
khawatir dan dengan setia menunggui anaknya hingga ia bangun. Akhirnya Karin
terbangun dari pingsannya, ia mendapati ibunya ada di sampingnya. Dokter Reza
yang memeriksa Karin menjelaskan bahwa selama ini yang menungguinya adalah
ibunya. Mendengar hal tersebut Karin merasa bersalah dan ia pun meminta maaf
pada ibunya selama ini sudah menyakiti hati ibunya.
B.
Analisis
Drama Anak “Bunda, Maafkan Aku” dengan Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam
mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman
pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra. Pengarang
menciptakannya berdasarkan subjektifitasnya saja, bahkan ada yang beranggapan
arbitrer. Padahal, ekspresif yang dimaksud berkenaan dengan daya kontemplasi
pengarang dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan sebuah karya yang baik
dan sarat makna.
Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang)
karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran,
presepsi-presepsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra.
Dalam menganalisis drama “Bunda, Maafkan Aku” karya Isnaini
DK, menggunakan pendekatan ekspresif yang mengulas karya sastra sebagai
ekspresi/curahan, ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang
beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan, dan kritik yang cenderung
menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan pelihatan
pribadi penyair atau keadaan pikiran. Kritik ini sering dicari dalam karya sastra yang
berkaitan dengan fakta-fakta
tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar
ataupun tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.
Karena pendekatan ini merupakan
pendekatan yang mangaitkan sebuah karya sastra dengan pengarangnya. Maka, langkah
pertama dalam menerapkan pendekatan ekspresif, seorang kritikus harus mengenal
biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
Langkah kedua, melakukan penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur
yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/ diksi, citraan,
dan sebagainya. Seorang
kritikus bebas melakukan penafsiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang membangun sebuah
karya sastra.
Langkah ketiga, mengaitkan hasil
penafsiran dengan berdasarkan tinjauan
psikologis/kejiwaan pengarang, Asumsi dasar penelitian psikologi
sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan
produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi
setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan ke dalam bentuk
secara sadar (conscius).
C.
Biografi
Pengarang
Isnaeni
DK adalah seorang pengajar dan pendidik. Ia menikmati perannya sebagai pengajar
drama. Baginya, drama adalah bagian dari hidupnya. Isnaeni DK senang
bersama anak-anak, mengajarkan tentang ekspresi, cara mengucapkan (vokal)
dialog, akting, juga pengambilan hikmah dari sebuah naskah drama, dan ia paling
suka menulis naskah drama ataupun cerpen untuk anak-anak. Sehingga ia lebih
suka meminta anak-anak (siswanya) praktik drama daripada mengajari anak-anak
(siswanya) secara teori.
Menurut ibu
satu anak ini, anak-anak tidak perlu diceramahi panjang lebar dalam kelas drama
karena dengan melakukan akting, mereka belajar sosio drama. Dan menurut Isnaeni
DK amanat-amanat yang terkandung dalam alur cerita akan mudah diserap oleh anak-anak sesuai dengan cara
mereka masing-masing.
D.
Latar Belakang Psikologi Pengarang
Pengarang drama anak yang berjudul “Bunda, Maafkan Aku” merupakan
seorang pendidik. Dalam kesehariannya, ia tentu banyak menjumpai siswa-siswi
dengan berbagai karakter. Melalui pengamatan secara langsung ketika mengajar,
ia menuliskan berbagai kisah yang ia temui di antara anak didiknya. Pengalaman
menuntunnya untuk membuat sebuah drama yang berlatar belakang kehidupan
sehari-hari.
Di dalam drama tersebut dikisahkan seorang anak yang tinggi hati dan tidak
menghormati orang tua. Bisa jadi penulis terinspirasi oleh anak didiknya. Di
sekolah, pasti banyak dijumpai anak yang sombong, tinggi hati, dan tidak sopan
dengan orang tua. Penulis menuliskan cerita berbentuk drama anak sebagai bahan
bacaan untuk anak didiknya. Dengan tema yang mengambil tak jauh dari kehidupan
sehari-hari bisa menjadi bahan ajar yang baik untuk anak didiknya. Diharapkan
anak-anak akan lebih menghormati orang tua dan tidak tinggi hati terhadap
apapun yang dimiliki.
E.
Latar Belakang Sosial dan Budaya
Sebagai
seorang pendidik, penulis pasti memiliki anak didik dengan berbagai watak dan
perilaku yang berbeda-beda. Penulis menggambarkan watak Karin sebagai sosok
yang tinggi hati ketika ia berhasil menjadi juara kelas. Memang, tak sedikit
anak yang berubah menjadi sombong ketika berhasil memperoleh juara. Penulis
tentu sering menjumpai siswa seperti yang dikisahkan dalam drama.
Ketika masih
bersekolah, kita tentu senang jika mendapat juara kelas apalagi jika mendapat
pujian dari guru. Bahkan, jika ada siswa yang mengalahkan kita di bidang
akademik, rasa kecewa pasti ada. Berbagai reaksi dari para siswa yang
mendapatkan juara tentu beragam. Ada yang senang karena akan mendapat hadiah
tambahan dari orang tua, ada yang bersikap biasa-biasa saja, dan ada yang
bersikap sombong karena merasa dirinya paling pintar. Penulis mengisahkan sosok
Karin sebagai anak yang sombong. Ketika ia mendapat juara dan dipuji
teman-temannya, ia merasa besar kepala. Ketika teman-temannya mengingatkannya
untuk berterima kasih kepada ibunya, ia acuh saja. Ia merasa bahwa kesuksesannya
adalah hasil usahanya sendiri, jadi ia
tidak perlu berterima kasih kepada
ibunya.
Penggambaran
tokoh seperti Karin tentu sering kita jumpai di kalangan anak-anak. Anak yang
membentak-bentak orang tua dan orang tua yang hanya bisa pasrah menyaksikan tingkah
laku putra-putrinya. Selain dari sekolah, penulis pun dapat mengamati
lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Mungkin, banyak anak-anak yang
memiliki sifat seperti Karin yang bisa diamati. Penulis juga memiliki seorang
anak. Penulis pun bisa mengamati tingkah laku anaknya.
Budaya yang
ditonjolkan penulis dalam drama tersebut yaitu anak pintar selalu merasa senang
ketika dipuji yang kebanyakan dari mereka langsung merasa dirinya paling
pintar. Meskipun tidak semua anak seperti itu, tetapi tidak mudah meninggalkan
watak seperti Karin bagi anak yang sering berprestasi. Lalu, ketika si anak itu
sukses, kebanyakan dari mereka melupakan jasa orangtuanya dan selalu
beranggapan bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah hasil kerja kerasnya
sendiri. Dan ketika tertimpa musibah barulah ia akan menyadari bahwa orang
tualah yang amat berjasa dalam hidupnya. Dalam sebuah cerita, selalu
diungkapkan penyesalan yang datang di akhir.
F.
Latar Belakang Pendidikan
Penulis
tentu merupakan pemerhati anak. Hal ini
tak lepas dari perannya sebagai pendidik. Melalui naskah drama dan biografinya,
kita bisa menyimpulkan bahwa penulis sangat menyukai hal-hal yang berkaitan
dengan drama. Drama tersebut seolah-olah ditemukan dari salah satu anak
didiknya. Penulis merupakan guru yang aktif. Ia lebih suka praktik langsung
daripada sekadar mengajar teori. Sehari-hari, dunia pendidikan sudah menjadi
bagian dari hidupnya.
G.
Latar Belakang Agama
Dalam menciptakan sebuah naskah drama, penulis tentu ingin menyampaikan
pesan secara tersirat dalam drama yang ditulisnya. Misalnya pada drama “Bunda, Maafkan aku”, penulis ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak
bahwa kita tidak boleh sombong dan tidak boleh membentak-bentak orang tua.
Secara tidak langsung penulis ingin mengajarkan nilai-nilai moral sekaligus
nilai agama pada anak-anak. Di dalam Islam, agama tidak memperbolehkan bersikap kasar kepada
orang tua. Anak yang durhaka kepada orang tua akan mendapat laknat dari Allah.
Bisa jadi, penulis merupakan sosok yang religius karena menuangkan unsur keagamaan
dalam naskah drama yang ditulisnya.
Lampiran Naskah Drama Anak "Bundaku, Maafkan Aku."
“Bunda,
Maafkan Aku”
Karin sangat
pintar. Ia berprestasi tinggi dan selalu menjadi juara. Tetapi ia lupa pada
ibunya saat sudah besar, ia menjadi orang yang berhasil. Ia sudah menjadi
seorang dokter sesuai dengan cita-citanya.
Suatu
ketika, ia terkena sakit parah, ternyata yang datang pertama kali adalah
ibunya...yang dulu pernah ia sia-siakan. Akankah ia sadar akan kesalahannya
itu? Mari kita saksikan pada drama “BUNDA, MAAFKAN AKU”
Adegan 1
Karin selalu
menjadi juara kelas di sekolahnya.
Mila :
“Selamat ya, Rin. Kamu selalu menang!”
Nana :
“Kamu hebat deh, Rin! Aku ngiri sama kamu...”
Karin :
“Iya dong. Aku emang hebat. Kalian berjuang dong biar bisa kayak aku!”
Lila :
“Aah...gimana caranya bisa kayak kamu. Otakmu udah encer gitu!”
Tiba-tiba
datanglah Rara, Tina dan Kaila di tengah-tengah mereka.
Rara :
“Eh, Karin. Jangan lupa berterimakasih kepada ibumu. Jangan seneng-seneng aja!”
Kaila :
“Iya, Rin. Jangan sampai kamu melupakan ibumu.”
Karin :
“Untuk apa berterimakasih sama ibu? Aku berhasil kan karena usahaku sendiri...”
Tina :
“Itu ibumu, Rin. Masa kamu nggak berterimakasih sedikitpun? Apa kamu nggak
takut kena laknat Allah?”
Karin :
“Udah deh, nggak usah khutbah di sini. Khutbah itu di masjid. Dan
itu juga dilakukan oleh laki-laki!”
Karin
meninggalkan mereka semua.
Adegan 2
Ibu :
“Ibu bangga padamu, Nak. Kamu selalu berprestasi.”
Karin :
“Huh! Nggak usah sok perhatian gitu deh, Bu.
Ibu :
“Nak. Kamu ini anak ibu. Ibu pasti selalu bangga dan bahagia dengan semua
prestasimu. Kamu adalah kebanggaan ibu.”
Karin
berlalu sambil menggebrak meja. Ia benci kepada ibunya.
Adegan 3
Dua puluh
tahun kemudian, Karin sudah menjadi dokter anak. Ia baru selesai
memeriksa balita bernama Talita.
Mama :
“Terimakasih ya, dokter. Kami pamit dulu.”
Talita :
“Aku bisa sembuh nggak, dokter Kayin?”
Karin :
“Pasti Talita akan sembuh kok. Ibu yang baik ya menjaganya. Jangan lupa obatnya
diminum.”
Mama :
“Baik, dok.”
Adegan 4
Para dokter
sekerja Karin begitu panik. Dokter Shinta, Nia, dan Sheryl mengitari Karin yang
baru saja jatuh pingsan.
Shinta :
“Ada apa dengan Karin nih?”
Nia :
“Kita panggil dokter Reza!”
Sheryl :
“Ya. Aku akan memanggilnya sekarang. Kalian bawa Karin masuk dulu.”
S &
N : “Ayo, cepat!”
Adegan 5
Karin
tertidur lemas.
Reza :
“Lambungnya bermasalah. Untuk sementara ia harus melakukan perawatan dulu di
sini.”
Ibu Karin
tiba-tiba datang.
Ibu :
“Apa yang terjadi denganmu, Nak? Ibu sangat khawatir.”
Selama 24
jam ibu menemani Karin yang selama ini telah menyia-nyiakannya. Teman-temannya
sangat kasihan pada ibunya.
Adegan 6
Karin
terbangun dan mendapati ibunya berada di sampingnya. Ia menangis tergugu tak
tahu harus berbuat apa. Dokter Reza menjelaskan bahwa selama ini yang
menungguinya adalah ibunya. Karin lalu meminta maaf.