kau...
dari sekian juta insan....
ntah mengapa malah justru kau yang hadir...
kau yang ada...
kau...
aku tak tahu seberapa indahnya duniamu...
hingga detik ini kau mampu mengalihkan duniaku...
kau tahu, aku penuh duri...
dan kau dengan pesonamu...
seakan menjelma menjadi malaikat pelindungku...
kau...
kau terlalu indah jika kumiliki...
namun terlalu sayang tuk ku tinggal...
bak berlian yang mungkin hanya sekali...
aku dapat kesempatan itu...
ku tunggu kau di gerbang kehalalan...
ku nanti janji setiamu di depan insan-insan lain...
tapi, satu yang paling ku tahu...
ku nanti kau jadi imam hidupku...
bukan karena aku, bukan karena kau...
dan bukan pula karena cinta...
tapi karena Sang Pencipta...
Minggu, 26 Mei 2013
Jumat, 10 Mei 2013
Pendidikan Anak Usia Dini
2.1.1 Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
Sesuai dengan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I pasal 1 ayat 14, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
2.1.2 Visi Pendidikan Anak Usia Dini
Terwujudnya anak usia dini yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia serta memiliki kesiapan baik fisik dan mental dalam memasuki tahap selanjutnya.
2.1.3 Misi Pendidikan Anak Usia Dini
2.1.3.1 Mengupayakan pemerataan layanan, peningkatan mutu dan efisiensi peyelenggara pendidikan dini.
2.1.3.2 Mengupayakan peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memberikan layanan pendidikan dini.
2.1.3.3 Mempersiapkan anak sedini mungkin agar kelak memiliki kesiapan dalam memasuki Pendidikan Dasar atau SD.
2.1.4.1 Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannyasehingga anak memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki Pendidikan Dasar dan serta mengurangi kehidupan di masa dewasanya.
2.1.4.2 Memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan ank sejak dini secara fisik, psikis, dan sosial secara menyeluruh.
2.1.4.3 Mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal agar terbentuk perilaku dan kemampuan dasar yang sesuai dengan tingkat perkembangan, kebutuhan, dan keunikannya.
2.1.4.4 Mewujudkan anak usia dini yang cerdas, sehat, ceria, dan berakhlak mulia serta memiliki kesiapan baik fisik maupun mental dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
2.1.5 Lingkup dan Sasaran Pendidikan Anak Usia Dini
2.1.5.1 Sasaran utama adalah anak usia lahir sampai dengan enam tahun, utamanya yang belum mendapat layanan pendidikan prasssekolah.
2.1.5.2 Sasaran antara adalah orang tua, keluarga, calon orang tua, pendidik dan pengelola pendidikan anak usia dini, semua lembaga layanan anak usia dini, PKK, BKB, Posyandu, para tokoh masyarakat dan lembaga-lembaga yang memiliki layanan pendidika anak usia dini.
2.2 Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 BAB I pasal 1 ayat 14 dijelaskan pendidikan anak usia dini dimaksudkan agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Misalnya Lembaga Pendidikan seperti PAUD dan Play Group, Lembaga Pendidikan ini didirikan agar anak lebih siap masuk ke Lembaga Pendidikan di atasnya, seperti TK. Atau Lembaga Pendidikan seperti TK yang didirikan agar anak lebih sia masuk ke Sekolah Dasar (SD). Tidak hanya Lembaga Pendidikan yang berperan.
Pendidikan anak usia dini dilakukan sejak lahir. Jadi, di dalam keluarga anak dididik agar dapat bergaul dengan teman sebaya dan bersosialisasi dengan masyarakat. Selain itu, anak diberi arahan oleh orang tua agar mereka menjadi anak yang baik. Tidak hanya arahan, anak akan lebih mematuhi perintah orang tua jika orang tua memberikan contoh langsung pada anak. Anak yang memperoleh pendidikan usia dini tentunya bereda dengan anak yang tidak memperoleh pendidikan tersebut.
2.3 Pro Kontra Masyarakat mengenai Lembaga Pendidikan untuk Anak Usia Dini
Orang tua yang mempunyai biaya tentunya akan menyekolahkan anaknya di Lembaga Pendidikan seperti PAUD, Play Group, atau TK. Harapan mereka agar anak-anak mereka lebih siap untukmemasuki Lembaga Pendidikan selanjutnya. Apalagi Lembaga Pendidikan seperti PAUD, Play Group, atau TK sekarang tidak sekadar mengajak anak didiknya bermain, melainkan para guru mengajarkan pelajaran-pelajaran seperti Bahasa Inggris, Matematika, dan lain-lain. Banyak Lembaga Pendidikan yang masih menggunakan metode belajar sambil bermai, karena metode tersebut dianggap efektif oleh pihak Lembaga Pendidikan. Pandangan mereka anak usia dini tentunya lebih senang bermain dan paling sulit untuk serius. Oleh karena itu bermain dijadikan perantara dalam proses belajar mengajar.
Ada juga orang tua yang menyekolahkan anaknya hanya untuk menghindari kerepotan. Alasan ini sering terjadi pada orang tua yang sibuk karena profesi masing-masing. Di zaman globalisasi seperti sekarang, tida jarang para orang tua mempunyai karir masing-masing. Tidak hanya seorang ayah yang mencari nafkah, seorang ibu pun banyak ditemui tidak hanya bergelar ibu rumah tangga, melainkan memiliki profesi lain. Karenaprofesi tersebut, terkadang anak menjadi nomor dua. Bahkan, untuk mengantar anak ke sekolah, orang tua lebih memilih sopir yang mengantarkannya daripada mereka mengantar sendiri. Padahal ketika orang tua mengantar, komunikasi dan keakraban terjalin. Dampak negatif dari hal ini adalah biasanya anak sering menghiraukan perintah orang tua , sering membantah orang tua, dan lain-lain.
Peningkatan pendidikan sering dikaitkan dengan dampak dari globalisasi. Sebagian besar pendidikan sekarang jenjangnya berstruktur. Jika dibandingkan dengan dulu, tentunya berbeda. Dulu tanpa jenjang pendidikan TK dapat langsung masuk ke SD. Tapi sekarang, selain seorang anak harus berusia 7 tahun, masuk SD harusdisertai dengan ijazah TK.
Tapi, ada pula orang tua yang menolak adanya Lembaga Pendidikan. Mereka berpikir ketika anak disekolahkan di Lembaga Pendidikan, anak mereka akan mendapatkan hal baru, kenyataan watak dan karakter yang berbeda-beda dari teman-teman baru tersebut, lalu anak mereka mengikuti kebiasaan teman-teman baruitu. Kebiasaa inilah yang sering dipersoalkan. Seorang anak dapat berubah sifatnya ketika mendapatkan teman-teman baru yang bertolak belakang dengan sifat-sifat mereka. Mereka dapat menjadi lebih boros atau lebih susah untuk diatur nantinya.
Selain itu, orang tua lebih percaya dengan pendidikan anak usia dini yang mereka ajarkan sendiri, daripada mempercayai pada Lembaga Pendidikan. Karena para orang tua ketika menyerahkan anak mereka ke Lembaga Pendidikan, mereka dihadapkan pada persoalan para guru, metode pengajaran, bahan-bahan pengajaran, materi pengajaran, dan keterlibatan anak mereka dengan anak-anak lain.
2.4 Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Porsi pendidikan keluarga dari masyarakat modern pada anak usia dini cenderung berkurang. Sebagian besar telah dialihkan kepada sopir, baby siter, dan pihak lain. Padahal keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Disebut sebagai lingkungan atau Lembaga Pendidikan pertama karena sebelum manusia mengenal Lembaga Pendidikan yang lain, keluarga inilah yang pertama ada. Selain itu, manusia mengalami proses pendidikan sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan pertama kali di dalam keluarga.
Pendidikan keluarga disebut pendidikan utama karena di dalam lingkungan ini segenap potensi yang dimilikinya terbentuk dan sebagian dikembangkan. Pendidikan keluarga ada dua macam, yaitu pendidika prenatal atau pendidikan sebelum lahir dan pendidikan postnatal atau pendidikan setelah lahir.
Dasar tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan anaknya meliputi motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak, motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga. Akan tetapi, lingkungan pendidikan dipilah menjadi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan pendidikan tersebut dikenal ole Ki Hajar Dewantara sebagai Tripusat Pendidikan.
Asmawati, Luluk. 2008. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini secara Islami. Jakarta: STIT Insida.
Dimas, Rasyid, Muhammad. 2005. 20 Kesalahan dalam Mendidik Anak. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Muhyidin, Muhammad. 2006. Buku Pintar Mendidik Anak Soleh dan Solehah Sejak dalam Kandungan sampai Remaja. Yogyakarta: Diva Press.
Munib, Achmad. 2010. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Suhartin,R.I.C. 1980. Cara Mendidik Anak dalam Keluarga Masa Kini. Jakarta: PT Bhratara Karya Aksara.
Langganan:
Komentar (Atom)